Tidak Semua Hati Ada Kita di Dalamnya

Saya rasa kita semua harus sepakat bahwa semua manusia punya hati. Mereka bisa peduli, mereka bisa khawatir, mereka bisa merasa bersalah, mereka juga bisa menyayangi seseorang dengan caranya sendiri. Tapi, ada satu hal yang sering kita lupakan. Tidak semua hati ada kita di dalamnya.

Mungkin terdengar sederhana, tapi banyak kekecewaan dalam hidup justru berawal dari hal ini. Kita mengira seseorang akan mengerti tanpa diberi tahu. Kita berharap seseorang menyadari bahwa kita sedang kesulitan. Kita berharap mereka menawarkan bantuan sebelum kita meminta. Kita berharap mereka bertanya ketika kita sedang diam. Kemudian ketika semua itu tidak terjadi, kita kecewa.

"Kok dia nggak peka?"
"Kok nggak ada yang bantu?"
"Kok nggak ada yang nanya?"

Padahal, mungkin mereka memang tidak tahu. Bukan karena mereka tidak peduli. Mereka hanya sedang sibuk dengan urusannya sendiri.

Setiap orang sedang membawa sesuatu yang tidak selalu kita lihat. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, keluarga yang harus dipikirkan, masalah yang sedang disimpan sendiri, dan banyak hal lain yang mungkin tidak pernah mereka ceritakan kepada kita. Jadi, jangan terlalu cepat menganggap bahwa ketika seseorang tidak datang membantu, berarti ia tidak peduli. Bisa jadi ia hanya tidak tahu bahwa kamu membutuhkan bantuan.

Dan dari sinilah komunikasi menjadi penting. Kalau ada sesuatu yang salah, katakan. Kalau ada sesuatu yang mengganggu, bicarakan. Kalau kamu membutuhkan bantuan, mintalah. Tidak semua orang bisa menerima perubahan nada bicaramu. Tidak semua orang mengerti arti dari diam yang kamu buat. Tidak semua orang mampu menerjemahkan kalimat "nggak apa-apa" menjadi "sebenarnya aku sedang kecewa."

Kadang kita terlalu berharap orang lain memahami kita, sementara kita sendiri tidak pernah benar-benar menjelaskan apa yang dibutuhkan. Lalu ketika mereka gagal memahami, kita menyalahkan mereka. Menurut saya, itu aneh. Kita tidak bisa meminta orang lain memenuhi kebutuhan yang bahkan tidak pernah kita sampaikan. 

Terlebih lagi kalau kita sedang mengerjakan sesuatu bersama-sama. Kalau memang kamu membutuhkan bantuan orang lain, jelaskan apa yang harus mereka kerjakan. Kalau sedang memimpin sebuah pekerjaan, bagi tugasnya dengan jelas. Sampaikan siapa mengerjakan apa, kapan harus selesai, dan apa yang sebenarnya kamu harapkan. Jangan berharap semua orang bisa membaca isi kepalamu. Apa yang menurutmu sudah jelas, belum tentu jelas bagi orang lain. Apa yang menurutmu harus segera dikerjakan, belum tentu menjadi prioritas bagi orang lain. Dan ketika sesuatu akhirnya tidak berjalan sesuai harapan, jangan langsung marah-marah seolah semua orang seharusnya sudah tahu sejak awal. Kalau memang ada yang salah, komunikasikan. Kalau memang ada yang kurang, sampaikan. Kalau memang ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, katakan bahwa itu mendesak. Bukan berarti orang lain tidak mau membantu. Bisa jadi mereka ada urusan yang harus segera diselesaikan sendiri. Karena kalau kita meminta bantuan orang lain, kita juga perlu menghargai waktu mereka.

Tidak semua hal harus selalu menjadi prioritas hanya karena menurut kita hal itu penting. Orang lain juga punya pekerjaan yang harus diselesaikan, punya agenda yang sudah dibuat, punya urusan yang mungkin sama pentingnya dengan urusan kita. 

Mereka mungkin tetap akan membantu. Tapi bukan berarti mereka harus meninggalkan semuanya saat kita membutuhkan. Biarkan mereka membantu dengan waktunya sendiri. Kalau memang membutuhkan bantuan lebih cepat, komunikasikan dengan baik. Jelaskan bahwa ada sesuatu yang mendesak dan tanyakan apakah mereka bisa membantu dalam waktu tersebut.

Sesederhana itu. Bukan dengan marah. Bukan dengan menyindir. Bukan dengan mengatakan, "Masa begini aja nggak bisa bantu?" Karena meminta bantuan tidak pernah berarti kita berhak mengatur seluruh waktu orang lain.

Setiap hubungan, bagaimanapun bentuknya, punya porsinya masing-masing. Ada orang yang memang akan datang ketika kamu membutuhkan bantuan. Ada yang cukup menemanimu bercerita. Ada yang hanya sesekali bertanya kabar. Ada juga yang mungkin tidak akan melakukan apa-apa selain menjalani hidupnya sendiri. Dan semuanya tidak harus dipaksa menjadi sama. Biarkan mereka memberikan apa yang memang mampu mereka berikan. Sebab semakin kita memaksakan orang lain untuk memenuhi ekspektasi kita, semakin mudah kita kecewa pada sesuatu yang sebenarnya tidak pernah mereka janjikan.

Dan mungkin ada satu hal yang lebih penting dari semuanya, jangan merasa dirimu adalah pusat dari kehidupan orang lain. Kamu penting. Tapi kamu bukan satu-satunya hal penting dalam hidup mereka. Mereka punya pekerjaan, mereka punya keluarga, mereka punya mimpi, mereka punya masalah, mereka juga punya diri sendiri yang harus mereka urus. Begitu juga denganmu.

Jadi ketika seseorang tidak segera membalas pesan, jangan langsung membuat kesimpulan. Ketika seseorang tidak menawarkan bantuan, jangan langsung menganggap mereka tidak peduli. Ketika seseorang tidak memahami apa yang kamu rasakan, mungkin bukan karena hatinya buruk. Mungkin karena kamu belum pernah benar-benar memberitahunya.

Komunikasi bukan tentang membuat orang lain mengerti kita setiap saat. Komunikasi adalah keberanian untuk mengatakan apa yang kita rasakan sebelum perasaan itu berubah menjadi tuntutan. Sebab ada perbedaan besar antara "Aku membutuhkan bantuan, boleh bantu aku?" dan "Kamu seharusnya tahu kalau aku membutuhkan bantuan."

Yang pertama adalah komunikasi. Yang kedua adalah ekspektasi yang tidak pernah disampaikan.

Dan kalau akhirnya tidak terpenuhi, jangan buru-buru menyalahkan orang lain atas kekecewaan yang kamu bangun sendiri. Kalau kamu tidak bisa menyampaikan kebutuhanmu dengan baik, jangan jadikan ketidakmampuanmu berkomunikasi sebagai kesalahan orang lain. Kalau kamu tidak bisa memimpin sebuah pekerjaan dengan pembagian yang jelas, jangan marah ketika orang lain tidak mengerjakan sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu tugaskan. Kalau kamu membutuhkan bantuan dengan segera, jangan menganggap semua orang harus langsung meninggalkan urusannya hanya karena kamu sedang membutuhkan mereka.

Belajarlah mengatakan apa yang kamu butuhkan, belajarlah mengatakan ketika kamu keberatan, belajarlah meminta ketika memang membutuhkan, dan belajarlah menerima bahwa setelah kamu menyampaikannya, orang lain tetap punya hak untuk memilih apakah mereka mampu membantu atau tidak. Karena komunikasi tidak menjamin kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi setidaknya, kita tidak lagi membuat orang lain menebak-nebak.

Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak bisa berharap semua orang memahami kita dan kita juga tidak harus memahami semua orang. Cukup tahu batasnya, cukup tahu porsinya, kapan harus memimpin, dan kapan harus mengurus semuanya sendiri. Sebab semua manusia memang punya hati. Tetapi tidak semua hati ada kita di dalamnya. Dan mungkin, menjadi dewasa adalah ketika kita akhirnya memahami itu tanpa harus membenci siapa-siapa.

Posting Komentar

0 Komentar